Oleh: Nadira Citra Maheswari)*
Pemulihan ekonomi pascabanjir di wilayah Sumatera menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat. Bencana banjir yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan dampak luas, tidak hanya pada infrastruktur dan permukiman, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan jumlah UMKM terdampak yang diperkirakan mencapai 2,3 juta unit usaha, pemerintah mengambil langkah percepatan pemulihan ekonomi secara terintegrasi agar roda perekonomian daerah kembali bergerak dan daya beli masyarakat segera pulih.
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman mengatakan langkah awal pemulihan difokuskan pada aktivasi pasar serta pembersihan warung dan toko milik warga di wilayah terdampak banjir. Tujuannya agar perekonomian masyarakat kembali bergerak. Ia menegaskan, Kementerian UMKM akan terus melakukan pemantauan dan pemetaan secara menyeluruh agar program pemulihan ekonomi berjalan komprehensif di ketiga provinsi tersebut.
UMKM selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Sumatera, baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan. Sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi sumber penghidupan utama bagi jutaan keluarga. Ketika banjir melanda, banyak pelaku UMKM kehilangan tempat usaha, peralatan produksi, bahan baku, hingga akses distribusi. Gangguan tersebut menyebabkan terhentinya aktivitas usaha dalam jangka waktu tertentu, yang berdampak langsung pada pendapatan masyarakat dan sirkulasi ekonomi lokal. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk bertindak cepat melalui berbagai kebijakan pemulihan yang bersifat responsif dan berkelanjutan.
Percepatan pemulihan ekonomi pascabanjir dilakukan dengan pendekatan lintas sektor yang melibatkan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Fokus utama diarahkan pada pemulihan sarana dan prasarana dasar yang menjadi penopang aktivitas ekonomi, seperti jalan, jembatan, pasar rakyat, sentra UMKM, serta jaringan listrik dan telekomunikasi. Dengan infrastruktur yang kembali berfungsi, distribusi barang dan jasa dapat berjalan normal, sehingga pelaku usaha memiliki ruang untuk kembali berproduksi dan memasarkan hasil usahanya.
Presiden Prabowo Subianto resmi menugaskan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Aceh. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Tito menyampaikan bahwa dari 52 kabupaten/kota terdampak di tiga provinsi, sebagian besar telah menunjukkan kemajuan signifikan. Pemulihan ditandai dengan berfungsinya roda pemerintahan daerah, pulihnya konektivitas jalan utama, kembalinya layanan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan, serta mulai bergeraknya aktivitas ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar menyampaikan bahwa program pemberdayaan masyarakat terdampak bencana akan dijalankan melalui kelompok kerja lintas kementerian dan lembaga. Kelompok kerja tersebut melibatkan Kementerian Sosial, Kementerian UMKM, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Desa, Kementerian Koperasi, serta sejumlah lembaga terkait lainnya.
Selain pemulihan infrastruktur fisik, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada aspek permodalan dan keberlanjutan usaha UMKM. Banyak pelaku usaha menghadapi keterbatasan modal akibat kerusakan aset dan berkurangnya omzet selama masa bencana. Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai skema pembiayaan dan stimulus ekonomi disiapkan guna membantu UMKM bangkit kembali. Dukungan ini diharapkan mampu menjaga kelangsungan usaha, mencegah gelombang penutupan usaha, serta melindungi lapangan kerja yang bergantung pada sektor UMKM.
Pemerintah daerah di Sumatera memainkan peran strategis dalam mengimplementasikan kebijakan pemulihan ekonomi di lapangan. Dengan pemahaman yang lebih dekat terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat, pemerintah daerah menjadi ujung tombak dalam pendataan UMKM terdampak, penyaluran bantuan, serta pendampingan usaha. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar program pemulihan berjalan tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Langkah percepatan pemulihan ekonomi juga diarahkan untuk mendorong konsumsi domestik sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan meningkatnya aktivitas UMKM, perputaran uang di tingkat lokal akan kembali menggeliat. Pasar tradisional, pusat kuliner, dan sentra kerajinan yang sempat terdampak banjir diharapkan kembali menjadi ruang interaksi ekonomi yang hidup. Hal ini tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas sebagai konsumen.
Pemerintah juga menempatkan pemulihan UMKM sebagai bagian dari strategi menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Sumatera memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik melalui sektor pertanian, industri pengolahan, maupun perdagangan. Dengan mendorong 2,3 juta UMKM di Sumatera kembali bergerak, pemerintah berupaya memastikan bahwa dampak bencana tidak menimbulkan perlambatan ekonomi yang berkepanjangan.
Seiring berjalannya waktu, keberhasilan percepatan pemulihan ekonomi pascabanjir di Sumatera akan tercermin dari kembalinya aktivitas usaha, meningkatnya penyerapan tenaga kerja, serta pulihnya daya beli masyarakat. Dengan UMKM yang kembali bergerak, kehidupan ekonomi di berbagai daerah di Sumatera diharapkan berangsur normal dan bahkan tumbuh lebih baik dari sebelumnya. Proses ini menjadi bukti bahwa kolaborasi, ketangguhan, dan keberpihakan pada ekonomi rakyat merupakan kunci utama dalam menghadapi dampak bencana dan membangun masa depan ekonomi yang berkelanjutan.
*) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau
