Oleh : Ricky Rinaldi
Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menempatkan aspek higienitas dapur sebagai fondasi utama keberlanjutan program. Sertifikasi higienis dapur MBG dipandang bukan sekadar prosedur administratif, melainkan instrumen penting untuk memastikan keamanan pangan, menjaga kesehatan penerima manfaat, serta membangun kepercayaan publik terhadap program strategis nasional tersebut. Dalam konteks pelaksanaan di lapangan, pemerintah memastikan bahwa setiap dapur yang terlibat dalam penyediaan makanan harus memenuhi standar kebersihan yang ketat, mulai dari pengolahan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, yang menyampaikan bahwa kualitas gizi dan keamanan pangan merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam Program MBG. Menurutnya, makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat optimal apabila proses penyajiannya mengabaikan prinsip higienitas. Oleh karena itu, Badan Gizi Nasional mendorong penerapan sertifikasi dapur secara konsisten sebagai bentuk perlindungan terhadap penerima manfaat, sekaligus sebagai upaya menjaga kredibilitas program di mata masyarakat. Dadan Hindayana menilai bahwa kepercayaan publik menjadi modal sosial yang sangat penting, sehingga setiap potensi risiko harus dikelola sejak awal melalui standar yang terukur dan dapat diawasi.
Dalam pelaksanaannya, sertifikasi higienis dapur MBG dilakukan melalui sinergi lintas sektor, khususnya dengan melibatkan Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah. Peran Dinkes menjadi krusial karena memiliki kewenangan teknis dalam penilaian sanitasi pangan, pengawasan dapur, serta edukasi bagi pengelola dan tenaga masak. Pemerintah daerah juga dilibatkan secara aktif untuk memastikan bahwa standar nasional dapat diterapkan secara adaptif sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing, tanpa mengurangi prinsip dasar keamanan pangan.
Dukungan pemerintah daerah tidak hanya tercermin dalam aspek pengawasan, tetapi juga dalam fasilitasi peningkatan kapasitas pengelola dapur. Melalui pendampingan teknis, pelatihan kebersihan, dan penyesuaian sarana prasarana, dapur MBG diarahkan agar mampu memenuhi standar higienis secara berkelanjutan. Pendekatan ini dipilih agar sertifikasi tidak dipahami sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran dan peningkatan kualitas layanan publik. Pemerintah menyadari bahwa keberhasilan Program MBG sangat bergantung pada kesiapan ekosistem pelaksana di tingkat lokal.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa keamanan pangan merupakan bagian integral dari upaya preventif kesehatan masyarakat. Ia berpandangan bahwa Program MBG memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan generasi penerus, sehingga pengawasan higienitas dapur harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Menurutnya, keterlibatan Dinas Kesehatan daerah dalam sertifikasi dapur MBG merupakan langkah tepat untuk memastikan bahwa standar kesehatan diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah. Budi Gunadi Sadikin juga menilai bahwa penguatan standar higienitas akan mencegah munculnya isu kesehatan yang berpotensi menggerus kepercayaan publik.
Dalam konteks ini, pemerintah memandang sertifikasi higienis sebagai bagian dari tata kelola program yang akuntabel. Setiap dapur yang terlibat dalam MBG diharapkan memiliki rekam jejak kepatuhan terhadap standar sanitasi, termasuk pengelolaan limbah, kebersihan peralatan, serta kesehatan tenaga pengolah makanan. Dengan sistem yang tertata, pengawasan dapat dilakukan secara berkala dan transparan, sehingga potensi penyimpangan dapat diminimalkan sejak dini. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa negara hadir tidak hanya sebagai penyelenggara program, tetapi juga sebagai penjamin kualitas layanan publik.
Kepercayaan publik menjadi isu sentral dalam pelaksanaan Program MBG yang menjangkau jutaan penerima manfaat. Pemerintah menyadari bahwa perhatian masyarakat terhadap kualitas makanan yang disediakan sangat tinggi, terutama menyangkut aspek kebersihan dan keamanan. Oleh karena itu, sertifikasi higienis dapur diposisikan sebagai alat komunikasi kebijakan yang menunjukkan keseriusan negara dalam melindungi masyarakat. Ketika standar diterapkan secara konsisten dan diawasi dengan baik, kepercayaan publik dapat terjaga dan bahkan diperkuat.
Sinergi antara Badan Gizi Nasional, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan daerah, dan pemerintah daerah mencerminkan pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan program nasional. Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari perumusan kebijakan, pengawasan teknis, hingga implementasi di lapangan. Pemerintah menilai bahwa kolaborasi ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa sertifikasi higienis dapur MBG tidak berhenti pada tataran regulasi, tetapi benar-benar diterapkan secara nyata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Selain aspek teknis, pemerintah juga mendorong peningkatan kesadaran pengelola dapur mengenai pentingnya higienitas sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Program MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Dengan pemahaman tersebut, pengelola dapur diharapkan memiliki komitmen internal untuk menjaga standar kebersihan, bukan semata-mata karena kewajiban administratif. Pemerintah melihat bahwa perubahan perilaku ini akan memperkuat keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, komitmen terhadap sertifikasi higienis dapur MBG mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengelola program berbasis kepentingan publik. Dengan dukungan Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah, standar higienitas tidak hanya menjadi persyaratan teknis, tetapi juga simbol tanggung jawab negara dalam melindungi kesehatan masyarakat. Melalui pendekatan yang terukur, kolaboratif, dan transparan, pemerintah optimistis Program MBG dapat terus berjalan dengan dukungan publik yang kuat dan berkelanjutan.
*)Pengamat Isu Strategis
